Bab 3
Toko yang Sepi
Toko Kue Ratmi berbau mentega dan kayu manis. Loncengnya berbunyi nyaring ketika mereka masuk, seolah sudah lama tidak ada tamu.
Bu Ratmi ternyata perempuan tua bertubuh kecil dengan celemek bermotif bunga. Ia menyambut mereka seperti menyambut cucu sendiri, lalu menyuguhkan kue sus yang masih hangat.
Dimas mencoba bertanya dengan cara yang menurutnya cerdik. "Bu, apa Ibu pernah mengirim kue ke panti?"
Bu Ratmi tersenyum. "Ibu cuma jualan kue, Nak. Mau kue apa?"
Ayu memperhatikan sesuatu di rak belakang: segulung pita kain hijau, persis seperti yang ada di kotak panti. Ia menyikut Dimas pelan.
Tetapi ia juga memperhatikan hal lain. Etalase toko hampir kosong, dan di meja kasir ada setumpuk surat berstempel merah dari bank. Toko ini sedang kesulitan, pikir Ayu. Lalu bagaimana mungkin pemiliknya membagikan dua puluh kue setiap minggu?