Bab 1

Lampu yang Tidak Pernah Padam

Setiap malam, lampu beranda rumah keluarga Hasan selalu menyala. Tia, si bungsu yang baru kelas tiga SD, menganggapnya semacam janji. Selama lampu itu menyala, katanya, Ayah pasti pulang.

Malam itu Ayah memang pulang, tetapi lebih cepat dari biasanya. Ia meletakkan tas kerjanya pelan-pelan di kursi rotan, seolah tas itu mendadak lebih berat dari kemarin.

Bu Laila tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menuang teh hangat dan menunggu. Dua puluh tahun menikah membuatnya hafal, ada kabar yang perlu diberi waktu sebelum diucapkan.

"Pabrik mengurangi karyawan," kata Pak Hasan akhirnya. "Bagian kami ditutup mulai bulan depan."

Raka, yang sedang mengerjakan tugas di ruang tengah, berhenti menulis. Pensilnya menggantung di udara. Ia menatap amplop cokelat di dalam tasnya, amplop yang belum sempat ia tunjukkan kepada siapa pun.

Di luar, lampu beranda tetap menyala. Tia sudah tertidur di sofa, tidak tahu bahwa malam itu, rumah mereka baru saja memulai sebuah perjalanan panjang.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berkomentar.

🎧 Bab 1: Lampu yang Tidak Pernah Padam

0:00 / 0:00

© 2026 Goresan Pena93 · Tempat cerita bertumbuh. Peringkat · Jadi Penulis

Versi pratinjau — data dan pembayaran masih mode simulasi.